Senin, 17 September 2012

Perkembangan Filsafat dari Zaman Yunani hingga Sekarang



Sejarah alam pikiran Eropa sejak awal mulanya menunjukkan pertalian yang sangat erat antara filsafat dengan ilmu pengetahuan positif. Dikalangan bangsa Yunani timbul alam pikiran yang berupa filsafat dan ilmu pengetahuan sekaligus, namun suatu perkembangan yang cepat menyebabkan terjadinya pemilahan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan yang khusus, seperti matematika, fisika dan ilmu kedokteran. Tetapi penilahan ini tidak menyebabkan pemisahan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan "positif". Demikian juga dengan abad pertengahan. Yang lebih penting dibanding dengan hubungan antara filsafat dengan ilmu-ilmu pengetahuan khusus dalam masa ini adalah hubungan antara filsafat dengan teologi krstiani. Sesungguhnya alam pikiran jaman pertengahan terutama bersifat telogik. Tetapi didalam kerangka alam pikiran teologik ini filsafat senantiasa semakin mendapatkan kemandiriannya yang nisbi.
Dalam karya tulis ini, penulis berusaha untuk memaparkan secara bartahap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di barat semenjak zaman Yunani kuno, mulai dari masa filsafat pra-Socrates sampai Filsafat Socrates, Abad Pertengahan, Renaissance dan Abad Pencerahan sampai Abad ke-20.

  Zaman Filsafat Pra Socrates
Mempelajari filsafat Yunani bearti menyaksikan kelahiran filsafat. filsafat dilahirkan karena kemenangan akal atas dongeng-dongeng atau mite-mite yang diterima dari agama, yang memberitahukan tentang asal-usul segala sesuatu, baik dunia atau manusia. Akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng-dongeng atau mite-mite itu, karena tidak dapat dibuktikan oleh akal. Kebenarannya hanya dapat diterima oleh iman atau kepercayaan. Para filsuf yang pertama adalah orang-orang yang mulai meragukan cerita mite-mite dan mulai mencari-cari dengan akalnya dari mana asal alam semesta yang menakjubkan itu. Sudah barang tentu kemenangan akal atas mite-mite itu tidak mungkin terjadi dengan tiba-tiba. Kemenangan itu dperoleh secara berangsur-angsur, berjalan hingga berabad-abad.
Sampai kini, filsafat Eropa (dan Amerika) masih juga didasarkan atas daya pikir orang-orang yunani. Tidaklah mungkin untuk memahami filsafat dewasa ini tanpa mengetahui sejarahnya serta asal usulnya. Yang menjadi asal mulanya dalam arti lebih luas adalah pemikiran Plato dan Aristoteles, dalam arti yang lebih luas lagi adalah seluruh pemikiran kuno sampai dengan surutnya peradaban kuno. Pemikiran kuno ini hampir seluruhnya merupakan hasil renungan orang-orang Yunani.
Meskipun terdapat banyak perbedaan pendapat diantara para pemikir yang satu dengan yang lain, namun filsafat Barat merupakan suatu kesatuan. Filsafat ini timbul dikalangan orang-orang Yunani berdasarkan rasa heran atas hal-hal yang mereka amati, demikianlah yang telah dikatakan oleh Plato dan Aristoteles. Filsafat ini merupakan upaya memahami. Para filsuf yang paling tua merupakan orang-orang pertama yang tidak lagi merasa puas dengan penjelasan berdasarkan mitos-mitos, melainkan menghendaki penjelasan yang masuk akal.
Pesisir-pesisir Asia Kecil diduduki orang lonia. Lonia merupakan daerah pertama dinegeri Yunani yang mencapai kemajuan besar, baik dalam bidang ekonomi maupun dalam bidang cultural. Seperti Hemeros, penyair yang tersohor itu hidup di Lonia. Demikian juga dengan ketiga filsuf yang pertama; Thales, Anaximandros serta Anaximenes dan mereka bertempat tinggal di Kota Miletos.
Tidak kebetulan bahwa pada awal abad ke-6 SM. Meletoslah yang menjadi tempat lahir untuk filsafat dan bukan kota lain, karena pada waktu itu Miletos adalah kota terpenting dari kedua belas kota Lonia. Kota yang letaknya dibagian selatan pesisir Asia kecil ini mempunyai pelabuhan yang memungkinkan perhubungan dengan banyak budaya lain. Dengan demikian. Miletos menjadi titik pertemuan untuk banyak kebudayaan dan segala macam informasi dapat ditukar antara orang-orang yang berasal dari pelbagai tempat.
Meskipun banyak para pemikir pertama yang hidup di Miletos, akan tetapi bagaimana persisnya ajaran mereka, sukar ditetapkan, sebab sebelum Plato, tiada hasil karya para filsuf itu yang telah seutuhnya dibukukan, bahkan tidak ada satupun kalimat yang tersisa. Pengetahuan kita tentang apa yang telah mereka pikirkan, disimpulkan dari potongan-potongan, yang diberitakan oleh orang-orang yang hidup lebih kemudian daripada mereka. Sesungguhnya tidak ada kepastian hasil karya yang manakah yang masih tersimpan dan ini pun tidak begitu saja dapat dipercaya.
Dapat dikatakan bahwa mereka adalah filsuf-filsuf alam, artinya mereka adalah para ahli pikir yang menjadikan alam yang luas dan penuh keselarasan dan keselarasan ini menjadi sasaran pemikiran mereka. Karena mereka ditakjubkan oleh alam yang penuh keanekaragaman dan gerak ini, mereka menanyakan kepada soal apa yang ada dibelakang semua ini. Akan tetapi sasaran yang diselidiki para filsuf pertama ini lebih luas dibanding dengan sasaran yang biasanya diselidiki oleh filsafat pada zaman sekarang.
Pemikiran mereka mencakup segala sesuatu yang dapat dipikirkan akal. Filsafat mereka meliputi, segala sesuatu yang sekarang disebut ilmu pengetahuan, yaitu ilmu pasti, ilmu alam, ilmu bintang-bintang, ilmu hayat, ilmu kedokteran dan politik. Jadi pada waktu itu belum ad pemisahan antara filsafat dan ilmu pengetahuan khusus seperti yang terjadi pada zaman sekarang.
Demikianlah yang diperhatikan oleh para ahli pemikir yang pertama di Miletos itu adalah alam, bukan manusia. Tetapi dalam hal ini kita pun harus mengingat, bahwa, yang dimaksud dengan alam (fusis) adalah seluruh kenyataan hidup dan kenyataan badaniah. Jadi perhatian mereka dicurahkan kepada apa yang dapat diamati. Meskipun mereka banyak juga yang berbicara mengenai gejala-gejala alam tertentu, namun ketekunan untuk berfilsafat dalam arti kata yang sebenarnya terbukti dari usaha mereka untuk menemukan azaz pemula yang mendasari segala sesuatu.
Sebagaimana yang ditemukan oleh THALES, bahwa azaz pemula ini adalah air, yang dalam sifatnya yang bergerak-gerak merupakan azaz kehidupan segala sesuatu. Semuanya berasal dari air dan semuanya kembali lagi menjadi air. Thales beranggapan demikian karena air mempunyai pelbagai bentuk; cair, beku, uap, akan tetapi tidak ada alasan yang pasti apakah Thales menentukan air sebagai zat asli alam semesta. Menurut kami, bahwa Thales berpikir demikian, karena bahan makanan semua makhluk memuat zat yang lembab dan demikian halnya juga dengan benih pada semua makhluk hidup.
 Murid Thales yang bernama ANAXIMANDROS juga mempunyai pemikiran yang lebih subtil dia mengarang sebuah risakah dalam prosa (yang pertama dalam kesusastraan Yunani). Ia mempunyai jasa-jasa dalam bidang astronomi dan juga dalam bidang geografi, sebab dialah orang pertama yang membuat suatu peta bumi.
Bagi ANAXIMENES yang satu angkatan lebih muda, bahwa azaz pemula adalah udara. Bukankah udara meliputi seluruh alam semesta dan juga merupakan azaz kehidupan manusia, seperti terbukti pada pernafasan "seperti halnya nyawa kita, yang berupa udara, menyebabkan diri kita merupakan ketunggalan, begitu pula nafas dan udara mengelilingi seluruh alam semesta".
Satu lagi seorang tokoh yang dibarisan sofis adalah PROTAGORAS. Ia menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Dengan kata lain teorinya disebut teori homo mensura yang berarti Manusia adalah ukuran dari segala sesuatu, sesuatu yang benar, karena mereka benar, sesuatu yang tidak benar, karena mereka tidak benar". Pernyataan ini merupakan tulang punggung humanisme. Pernyataan yang muncul adalah apakah yang dimaksudkannya menusia individu ataukah manusia pada umumnya. Memang kedua hal itu menimbulkan konsekuensi yang sungguh berbeda. Akan tetapi, tidak ada jawaban yang pasti, mana yang dimaksud oleh Protagoras. Yang jelas ialah ia menyatakan bahwa kebenaran itu bersifat pribadi (private). Akibatnya ialah tidak akan ada ukuran yang absolute dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan teori-teori matematika juga tidak dianggapnya mempunyai kebenaran yang absolute.

Zaman Filsafat Socrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relative telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan, inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relative, ada kebenaran yang umum yang dapat dipegang oleh semua orang, sebagian kebenaran memang relative tetapi tidak semuanya.
Sebagaimana para sofis, Sokrates pun memulai filsafatnya dengan bertitik tolak pada pengalaman sehari-hari dan dari kehidupan yang konkret. Tetapi ada satu perbedaan yang penting sekali antara Sokrates dengan kaum Sofis.
Menurut pendapat Socrates, ada kebenaran objektif yang tidak bergantung pada saya dan pada kita. Akan tetapi, sebaiknya kita tidak memandang keyakinan Sokrates itu dari sudut "kebenaran" saja, karena dengan itu barangkali kita menampilkan pesan seakan-akan Sokrates mencurahkan pemikirannya dalam bidang teoritis. Padahal ia hanya memperhatikan hidup praktis saja, yaitu tingkah laku manusia. Itulah sebabnya lebih tepat kita merumuskan keyakinan Sokrates dengan mengatakan bahwa menurut dia bukan sembarang tingkah laku boleh disebut baik. Ada tindakan yang pantas dan ada tindakan yang jelek. Sokrates yakin bahwa berbuat jahat adalah suatu kemalangan bagi seorang manusia dan bahwa berbuat baik adalah satu-satunya kebahagiaan baginya. Dalam sebab itu Sokrates berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berikut; Apakah itu hidup yang baik? Apakah kebaikan itu yang mengakibatkan kebahagiaan seorang manusia? Apakah norma yang mengizinkan kita menetapkan baik buruknya suatu perbuatan?
Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran yang objektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban-jawaban lebih lanjut ia menarik konsekuensi-konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut.
Metode yang digunakan oleh Socrates disebut dengan dialektika, dinamakan begitu karena dialognya mempunyai peranan yang sangat penting didalamnya. Dan maksudnya mudah diperkirakan, jika kita ingat bahwa kata kerja Yunani dialegestai berarti "bercakap-cakap" atau "berdialog".
Socrates mempunyai metode tersendiri untuk mengajarkan ajarannya kepada orang, ia memakai siasat ibunya sebagai seorang bidan yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, ia bermaksud agar manusia memperoleh penglihatan-dalam bahwa pendapat yang sudah pasti dalam dirinya sesungguhnya kurang berisi kebijakan serta mengandung pertentangan, namun ia tetap bertahan pada kegiatan yang negative tersebut.
Sedah kita ketahui bahwa Sokrates tidak menyajikan suatu ajaran yang sistematis dan tidak mempunyai murid dalam arti kata yang sebenarnya. Ia juga tidak mendirikan suatu mazhab. Ia hanya mengajak pengikut-pengikutnya supaya mereka berfilsafat. Sesudah kematian Sokrates, mereka semua menempuh jalan masing-masing. Pengikut-pengikut kecil itu meneruskan beberapa aspek dari filsafat Sokrates, tetapi mereka juga dipengaruhi oleh aliran-aliran lain. Khususnya mazhab Elea dan kaum Sofis. Dan mereka antara lain; 
a)            Mazhab Megara
b)            Mazhab Elis dan Eretria
c)            Mazhab Sinis
d)           Mazhab Hedonis.
                  
                  Abad Pertengahan
Akal pada abad Pertengahan ini benar-benar kalah. Hal ini kelihatan dengan jelas pada filsafat Plotinus, Agustinus, Anselmus. Pada Aquinas penghargaan terhadap akal muncul kembali dan karena itu filsafatnya banyak mendapat kritik. Dan abad Pertengahan ini merupakan pembalasan terhadap dominasi akal yang hampir seratus persen pada zaman Yunani sebelumnya, terutama pada zaman Sofis.
Pemasungan akal dengan jelas terlihat pada pemikiran Plotinus. Ia mengatakan bahwa Tuhan (ia mewakili metafisika) bukan untuk dipahami, melainkan untuk dirasakan. Oleh karena itu, tujuan filsafat (dan tujuan hidup secara umum) adalah beratu dengan Tuhan. Jadi, dalam hidup ini, rasa itulah satu-satunya yang dituntut oleh kitab suci, pedoman hidup semua manusia. Filsafat rasional dan sains tidak begitu penting; mempelajarinya merupakan usaha yang sia-sia, karena Simplicius, salah seorang pengikut Plotinus, telah menutup sama sekali ruang gerak rasional, iman telah menang mutlak. Karena iman harus mutlak, orang-orang yang masih hidup juga menghidupkan filsafat (akal) harus dimusuhi.
Agustinus mengganti akal dengan iman; potensi manusia yang diakui pada zaman Yunani diganti dengan kuasa Allah. Ia mengatakan bahwa kita tidak perlu dipimpin oleh pendapat bahwa kebenaran itu relative. Kebenaran itu mutlak yaitu ajaran agama.
Cirri khas dari pada filsafat Abad Pertengahan terletak pada suatu rumusan yang terkenal yang dikemukakan oleh Saint Anselmus, yaitu credo ut intelligam. Rumusan itu berarti iman lebih dahulu, setelah itu mengerti. Imanlah lebih dahulu. Misalnya, bahwa dosa warisan itu ada, setelah itu susunlah argument untuk memahaminya, mungkin juga untuk meneguhkan keimanan itu.
Sifat ini berlawanan dengan sifat filsafat raional. Dalam filsafat rasional, pengertian itulah yang didahulukan; setelah dimengerti, baru mungkin diterima dan kalau mau; diimani. Mengikuti jalan pikiran inilah maka saya berkesimpulan bahwa jantung filsafat Abad Pertengahan Kristen terletak pada ungkapan itu. Berdasarkan penalaran itu pula maka menurut hemat saya, tokoh utama peletak kekuatan filsafat Abad Pertengahan adalah St. Anselmus.
Abad Pertengahan melahirkan juga filosof yang terkemuka yaitu Thomas Aquinas. Dia adalah salah satu diantara orang-orang yang berusaha membuat filsafat Aristoteles sesuai dengan agama Kristen. Kita anggap ia menciptakan perpaduan hebat antara iman dan ilmu pengetahuan. Tekanan terhadap pemikiran rasional pada waktu ia hidup telah banyak berkurang. Oleh karena itu ia berhasil mengumumkan filsafar rasionalnya. Yang terkenal adalah beberapa pembuktian tentang adanya Tuhan yang masih dipelajari sampai sekarang. 

Zaman Renaissance
Dalam filsafat zaman Renaissance jauh lebih banyak unsur magi yang ikut berperan dibanding pada zaman pertengahan. Banyak penemuan baru dibidang ilmu pengetahuan dan di lapangan pengetahuan mengenai bumi serta bangsa-bangsa yang menyebabkan merajalelanya rekaan pikir yang sangat dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat magi. Hal-hal yang bersifat magi ini merupakan salah satu cirri pemikiran pada zaman Renaissance, seperti halnya refleksinya mengenai politik serta pertumbuhan ilmu alam, yang memberikan titik berat pada pengamatan yang tak berprasangka.
Pemikiran mengenai alam pada jaman Renaissance menghasilkan tokoh-tokoh yang terpenting di Itali dan Jerman. Salah satunya adalah Leonardo Da Vinci telah sepenuhnya mengerti, bahwa alam hanya dapat diketahui melelui pengalaman dan bahwa bagi pengusahaan ilmu alam, pengalaman harus ditumbulkan  melalui eksperiment dan dikembangkan dengan menggunakan matematika. Da vinci yang dengan tenang menerapkan metodenya yang menjauhi segenap filsafat alam spekulatif, mendahului Galileo dan baru dapat diimbangi oleh Galileo. Dan karena hasil karya Da Vinci tetap tidak dikenal, maka gagasan-gagasan yang terkandung didalamnya tidak membawa pengaruh terhadap rekan-rekan sesamanya dan terhadap para pemikir di kemudian hari.

Zaman Pencerahan (Aufklarung)
Zaman ini dimulai pada abad ke-18 yang telah berakar dari masa Renaissance. Menurut Immanuel Kant, Zaman Percerahan adalah zaman manusia keluar dari keadaan tidak akil baligh, yang disebabkan karena kesalahan manusia sendiri. hal itu disebabkan karena manusia tidak mau menggunakan akalnya dalam pemikirannya. Dan pencerahan ini berasal dari Inggris, berkembang di sana dikarenakan inggris telah menjadi Negara yang berkembang dan merupakan Negara yang liberal. Oleh karena itu lambat-laun pencerahan tumbuh menjadi keyakinan umum diantara para ahli pikir. Dan pemikiran pencerahan banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan alam yang telah dibawa sampai kepada puncaknya oleh ISAAC NEWTON (1642-1727), dialah yang telah memberikan alas kepada fisika yang klasik, yang menjanjikan suatu perkembangan yang tiada batasnya.
Pada abad ini sangat berbeda dengan abad sebelumnya yang membatasi diri pada usaha untuk memberikan interprestasi baru terhadap realitas bendawi dan rohani, yaitu kenyataan yang mengenai manusia, dunia an Allah. Sebaliknya abad ini, mereka menganggap dirinya sebagai insane yang mendapatkan tugas untuk meneliti secara kritis sesuai dengan apa yang diberikan oleh akal, terhadap segala yang ada, baik didalam Negara didalam masyarakat, dalam bentuk ekonomi atau dalam bentuk hukum. Dan lain sebagainya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh EDUARD HERBERT, salah satu dari perintis pencerahan di Inggris, mengatakan bahwa akal mempunyai otonomi mutlak dibidang agama, begitu juga dengan Kristen yang telah ditaklukkan oleh akal. Dengan dasar ini. Ia menentang segala kepercayaan yang berdasarkan wahyu.
Begitu juga di jerman, tokoh terpenting pencerahannya adalah CHRISTIAN WOLFF (1679-1754), di sangat menonjolkan filsafat dari segi rasionalistik-optimistiknya, ia mengatakan bahwa baik ajaran kesusilaan maupun ajaran Ketuhanan, alami sekali hal itu terlepas dari pada ajaran agama. Pemikirannya sudah mengarah kepada deisme (suatu aliran dalam filsafat Inggris pada abad ke-18 yang menggabungkan diri dengan gagasannya EDUARD HERBERT yang dapat juga disebut dengan pemberi alas ajaran agama alamiah) Tuhan telah menciptakan dunia, namun untuk selanjutnya membiarkannya mengikuti perjalanan nasibnya sendiri.

Filsafat Abad ke-20
Kira-kira pada tahun 1980 dimulailah suatu zaman baru, yang berbeda dengan zaman sebelumnya tetapi masih ada keterkaitan diantaranya. Pada abad ke-20 ini masih juga dijiwai oleh pandangan bahwa cara yang paling baik untuk menemukan kebenaran di bidang filsafat salah satunya adalah dengan cara meninggalkan semua pemikiran yang telah diwariskan oleh pemikir-pemikir terdahulu dibidang itu. Perpalingan itu terjadi dalam segala bidang; dalam bidang ilmu pengetahuan positif, filsafat dan teologi, bidang seni dan teknika  dan dalam bidang interaksi social. Yang paling mendasar dari perpalingan ini adalah bukan pada perkembangan yang terjadi pada masing-masing ilmu pengetahuan, melainkan pada konvergensi yang terjadi terus menerus.
Pada bagian pertama pada abad ke-20 terdapat berbagai macam aliran yang berdiri sendiri-sendiri dan terdapat diberbagai Negara. Masing-masing menyebarkan pengaruh yang mendalam pada masyarakat sekitarnya.aliran-aliran tersebut antara lain; aliran Pragmatisme di Inggris dan Amerika, Filsafat hidup di Prancis dan Jerman.
Di Amerika Serikat Pragmatisme; suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantara akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Telah mendapat tempat tersendiri dalam pemikiran filsafat. Seperti WILLIAM JAMES, yang telah memperkenalkan gagasan-gagasan Pragmatisme tersebut.
 











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar